Kisah Sang Khalifah dan Seorang Badui

Suatu ketika al-Hajjaj bin Yusuf diiringi para pengawalnya melakukan perjalanan mengelilingi daerah kekuasaannya. Dalam perjalanannya itu tibalah rombongan di suatu tempat antara Makkah dan Madinah yang bermata air jernih dan segar. Ia memerintahkan para pengawalnya untuk mencari teman mengobrol sekaligus teman makan.

Pengawal pun pergi menyusuri tempat sekitar daerah itu untuk mencari orang yang dibutuhkan sang baginda. Ketika pengawal tiba di sebuah bukit, tampak seorang Badui yang sedang tidur berselimutkan kain kumal. Pengawal itu membangunkan dan kemudian mengajaknya menemui al-Hajjaj.

Ketika tiba di tenda al-Hajjaj, dia diperintahkan untuk mencuci tangan dan kaki. Hal itu membuat Badui bingung. “Ayo, kau makan bersamaku.” kata al-hajjaj menyambut si Badui itu.

Mendapat tawaran itu Badui langsung

menolak. “Maaf, terima kasih atas undangan anda. Tapi saya telah menerima undangan dari yang lebih baik dibvanding undangan anda.” kata Badui itu.
“Siapakah dia?” tanya al_Hajjaj.

“Allah SWT. Dia telah memanggilku untuk berpuasa dan hari ini aku tengah menjalankannya.” jawab Si badui.
“Tapi apakah di bawah terik panasnya matahari seperti ini kau masih tetap berpuasa?” tanya raja al-Hajjaj lagi. “Ya, bahkan meskipun menghadapi panas yang melebihi panasnya hari ini.” jawab Si Badui.

“Batalkan saja puasamu untuk hari ini saja. Besok kamu bisa berpuasa lagi.” ujar al-Hajjaj.
“Apakah anda bisa menjamin besok saya masih bisa hidup dan berpuasa lagi? Bila Anda bisa, saya akan berbuka puasa saat ini juga.” kata si Badui.

“Tentu saja aku tak bisa menjamin, Mati hidup seseorang di luar kehendak kita.” tambah al-Hajjaj.
“Jika Anda tak bisa menjamin, kenapa Anda menyuruh saya utnuk membatalkan sesuatu yang sudah pasti dan menjanjikan sesuatu yang di luar kehendak Anda.” kata si Badui.
“Kau akan menyesal jika tak mau memakan masakan yang lezat ini.” bujuk al-hajjaj.

“Tuan, kelezatan tak terletak pada masakan. Kelezatan hanya dapat diperoleh dari tubuh yang sehat.” jawab si Badui.
Akhirnya al-Hajjaj sadar, ia merasa mendapat pelajaran. Ternyata dari Badui yang dianggap bodoh dari pedesaan yang terpencil ini tercermin sifat-sifat agung.

Saudaraku, janganlah menganggap remeh seseorang yang baru anda kenal. Karena tidak ada yang tahu keimanan seseorang itu melainkan Allah. Bukanlah pangkat dan kedudukan yang membedakan kita. Hanya Iman yang teguh dan amal yang shaleh dapat menyelamatkan kita.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: